LOGIN ADMIN DINAS / OPERATOR
FOTO KEPALA DINAS

Yudi Satria, SE, MM
NIP : 196502181993031006

SOCIAL MEDIA
LINK TERKAIT
Share This Articel on :
Tarian Adat
Ditulis oleh :

12 Maret 2018 - 22:47:55 WIB

TARIAN ADAT DAERAH BENGKULU

Macam-macam tarian adat dari daerah provinsi bengkulu antara lain sebagai berikut :

Tari Andun

Tari Andun adalah merupakan tari tradisional yang telah dilakukan oleh masyarakat Bengkulu Selatan sejak zaman dahulu. Tari Andun merupakan tari pergaulan sebagai sarana mencari jodoh yang dilakukan oleh pemuda dan pemudi.

Tari Andun pada zaman dulu dilakukan oleh pemuda dan pemudi pada malam hari, pada acara adat / pesta perkawinan. Namun saat ini tari Andun lebih banyak berfungsi sebagai sarana hiburan dan upaya pelestarian kesenian tradisional dari Bengkulu.

Persembahan tari Andun biasanya diiringi oleh musik kolintang yang dimainkan oleh pemain musik tradisional Bengkulu.

Tari Ganau dari Bengkulu, merupakan tarian yang diiringi dengan musik. Didominasi oleh iringan musik tradisional Bengkulu seperti mandolin, rebab dan kendang serta lagu dengan irama melayu.

Tarian tradisional Ganau ini dimainkan oleh sekelompok penari wanita dan laki-laki. Dimulai dengan tempo gerakan yang lambat diakhiri dengan gerakan yang cepat dan menghentak-hentak. Gerakan tangan, serta melompat dan  formasi yang harmonis dengan iringan musik merupakan ciri khas yang dari tarian ini.

Tari Kejei merupakan kesenian rakyat Rejang yang dilakukan pada setiap musim panen raya datang. Tarian Kejei tersebut dimainkan oleh para muda-mudi di pusat-pusat desa pada malam hari di tengah-tengah penerangan lampion. Kekhasan tari ini adalah alat-alat musik pengiringnya terbuat dari bambu, seperti kulintang, seruling dan gong. Tarian dimainkan sekelompok orang yang membentuk lingkaran dengan berhadap-hadapan searah menyerupai jarum jam. Tarian ini pertama kali dicatat oleh seorang pedagang Pasee, bernama Hassanuddin Al-Pasee yang berniaga ke Bengkulu pada tahun 1468. Tapi, ada pula keterangan dari Fhathahillah Al Pasee, yang pada tahun 1532 berkunjung ke Bengkulu.

Tari Kejei dipercaya sudah ada sebelum kedatangan para biku dari Majapahit. Sejak para biku datang, alat musiknya diganti dengan alat dari logam, seperti yang digunakan sampai saat ini. Acara kejei dilakukan dalam masa yang panjang, bisa sampai 9 bulan, 3 bulan, 15 hari atau 3 hari berturut-turut. Tari ini adalah tarian sakral yang diyakini masyarakat mengandung nilai-nilai mistik,sehingga hanya dilaksanakan masyarakat Rejang Lebong dalam acara menyambut para biku,perkawinan dan adat marga. Pelaksanaan tari ini disertai pemotongan kerbau atau sapi sebagai syaratnya.

Penyambutan di Inspirasi Tari Kejai yang sakral dan Agung di Tanah Rejang. Tari Persembahan Penyambutan Tamu adalah Tari Kreasi Baru yang diatur sedekat mungkin dengan Tari Kejai. Terinspirasi oleh tari Kejai karena Suku Rejang sendiri jaman dahulu tidak mempunyai Tari Penyambutan, di jaman dahulu penyambutan tamu dilakukan dengan upacara adat.

Tari Kejai adalah tarian sakral dan agung, sehingga sangat pantas untuk di persembahkan untuk Penyambutan Tamu, seperti Pejabat Tinggi Negara, Menteri, Bupati yang berkunjung ke Tanah Rejang, atau pada even-even lain yang bersifat ceremonial, seperti pada acara penyambutan piala Adipura yang tiba di Kota Curup tanggal 7 juni lalu. Jumlah penari tidak dibatasi,sesuai dengan tempat,bisa putra bisa pula putri, bisa juga berpasangan. Di Rejang Lembak Tari Penyambutan disebut Tari Kurak, namun dalam pembahasan disepakati menggunakan Tari Penyambutan yang telah dibakukan. Musik yang mengiringi Tari Penyambutan di inspirasi oleh tarian sakral dari Tanah Rejang, musik dan alat musik Tari Penyambutan memakai alat musik khas tradisional Suku Rejang, yaitu gong dan kalintang, yang dari jaman dahulu kala di pakai pada musik pengiring tarian sakral dan agung Suku Rejang yaitu Tari Kejai. Pada umumnya dipakai irama lagu Lalan belek dan Tebo Kabeak.

Tari ini diangkat berdasarkan cerita rakyat tentang seorang bidadari yang terpaksa tertinggal, karena saat lagi mandi bersama-sama temannya yang lain selendangnya diambil orang. Suatu saat selendangnya ditemukan kembali dan bidadari tersebut kembali pulang meninggalkan si pemuda yang mendendam.

sumber : http://www.tradisikita.my.id/2016/01/5-tari-tradisional-daerah-bengkulu.html


SENI BUDAYA
JAJAK PENDAPAT
Bagaimana menurut anda tentang website ini
Sangat Bagus
Bagus
Cukup
Kurang
Kurang Bagus

HASIL POLLING