#visitbengkulu

KREATIF

Keluarga Kerukunan Tabut (KKT)


Dilihat : 5 kali


Keluarga tradisional adalah keluarga Tabot yang tetap mempertahankan tradisi yang diterima dari leluhur dan bersikap tertutup dari pengaruh luar. Dengan adanya keluarga tradisional ini mengakibatkan lahirnya organisasi Kerukunan Keluarga Tabot (KKT). Pada tahun 1991, lahir ide pembentukan Kerukunan Keluarga Tabot (KKT), saat itu Provinsi Bengkulu diundang ke Jakarta untuk menampilkan seni budaya yang dimiliki. Bengkulu menampilkan Tabot dengan permainan musik dhol-nya. Setelah itu timbul ide tokoh-tokoh Tabot untuk membentuk Kerukunan Keluarga Tabot (KKT). Pada tahun 1993 terbentuklah ketua dan anggota Kerukunan Keluarga Tabot (KKT). Bagi masyarakat non-keluarga Tabot, Tabot dianggap sebagai budaya daerah untuk kepentingan pariwisata. Tabot bagi kelompok non-keluarga Tabot dimaknai sebagai salah satu produk budaya yang potensial untuk kepentingan pariwisata daerah. Pandangan seperti inilah yang dikembangkan oleh pemerintah daerah dengan memunculkan istilah Tabot pembangunan. Maksud dari Tabot pembangunan adalah bangunan Tabot yang terdiri dari berbagai daerah-daerah di Bengkulu dan secara keseluruhan seluruh masyarakat 105 Bengkulu turut merayakan dan memeriahkan perayaan Tabot tersebut. Bangunan fisik Tabot pembangunan sama dengan bangunan Tabot sakral. Hanya saja pada Tabot pembangunan tidak dilengkapi dengan tanah dan penja. Pelaksanaan Tabot bagi kelompok non-keluarga Tabot dipimpin oleh dinas pariwisata Provinsi Bengkulu.

Dengan landasan seperti diatas terlihat jelas pergeseran makna terjadi saat perayaan Tabot. Awal mulanya yang melaksanakan perayaan Tabot itu hanya dari kelompok keluarga Tabot dan kelompok keluarga bukan Tabot. Seiring perjalanan waktu, perayaan Tabot tersebut mengalami perkembangan dan perluasan sehingga bukan hanya keturunan keluarga Tabot dan keluarga non-Tabot saja yang merayakan acara tersebut namun, semua masyarakat dari berbagai daerah dan instansi pemerintahan di Bengkulu ikut memeriahkan acara Tabot tersebut sehingga lambat laun upacara tersebut menjadi pesta rakyat bukan sepenuhnya ritual yang sakral yang dilaksanakan setiap tanggal 1–10 Muharram setiap tahunnya.


Sumber : http://eprints.uny.ac.id/14083/9/kesimpulan%20+%20daftar%20pustaka.pdf



Lihat Foto Lihat Video Lihat Maps

Share this :

Informasi Kreatif Lainnya

Dilihat : 4 kali

GenPi Bengkulu